This is my heroes

Happy or unhappy, families are all mysterious. We have only to imagine how differently we would be described - and will be, after our deaths - by each of the family members who believe they know us. Gloria Steinem

5 Cara Dapat Biaya untuk Parcel Lebaran

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Family is the most important in alive

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Family

Family is the most important in alive. This is my family, the important things in my life

Sastra Penarawa di Eling Bening, Ambarawa

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 05 Oktober 2014

Amplop Listrik



Amplop Listrik

 Foto: koleksi pribadi

 Mengawali bisnis kecil menuju proses menjadi bisnis besar tak semudah melalui jalan tol. Apalagi sebagai pebisnis pemula tak jarang kita menyimpangkan dana bisnis untuk kepentingan lain karena modal cekak. Bagi yang punya toko, warung ataupun ruko selain memikirkan biaya sewa tempat bisnis (kecuali tempat bisnis di rumah sendiri), masih menanggung biaya pulsa listrik serta biaya kebersihan lingkungan.
Ada pos khusus yang harus kita siapkan dalam beberapa amplop sekaligus apabila bisnis kita berdagang dan menghasilkan income setiap hari. Pos khusus seperti saran Ibu Lina Dewi Lina, seorang perencana keuangan dan investasi tentang pengelolaan dana yang baik.
Yang pasti dan harus selalu harus ada adalah dana untuk pembayaran pulsa listrik. Coba perhatikan dalam satu bulan berapa kurang lebihnya pulsa listrik yang dibutuhkan. Misalkan saja Rp100.000,-. Bagi dalam 30 hari. Hasilnya dibulatkan sekitar Rp3.400,-. Jadi dalam satu hari minimal harus mempunyai dana sejumlah itu untuk membayar pulsa listrik.  
Caranya sangat mudah, ambil satu amplop khusus dan tulislah di bagian depan amplop dengan kata LISTRIK. Dalam bisnis perdagangan apapun, untuk skala kecil, biasakan setiap harinya menaruh uang minimal Rp3.400,- dalam amplop. Andai ada keuntungan berlebih, bisa ditambah lagi sesuka anda. Dalam satu bulan sudah terkumpul dana berlebih untuk membayar pulsa lisrik. Hanya dengan beberapa ribu rupiah, akhir bulan tak perlu kelimpungan cari dana  buat beli pulsa. Luar biasa, bukan?
Mari mulai kita praktekkan langkah sederhana di atas, sangat tidak memberatkan dan mudah dilaksanakan. Hanya saja butuh kedisiplinan juga, lho. Jangan pernah mengutak utik amplop LISTRIK tersebut, karena sekali mengambilnya, akan menjadi kebiasaan buruk, dan saat pulsa listrik habis, wow… kita akan kelimpungan karena tak ada dana khusus untuk beli pulsa listrik. Karena,bisnis sekecil apapun, harus kita mulai dengan langkah besar. Big dream!



  

Keuangan ‘Mungil” si Kecil



Keuangan ‘Mungil” si Kecil

                                                      Sumber gambar: www.google.com

Mangajar si kecil melek keuangan tak perlu menunggu anak tumbuh besar dan menjadi remaja. Yuk, mulai ajak mereka mengelola keuangan sedari kecil. Chief Operation Officer (COO) PT. Fokus Finansial, Ibu Rina Dewi Lina selalu mengajak kita peduli finansial sehingga masing-masing kebutuhan terjatah dengan sempurna. Sangat baik untuk diterapkan pada buah hati kita.
 Saatnya juga anak-anak belajar mengurus keuangan pribadi mereka sendiri, khususnya untuk anak di atas usia 10 tahun. Karena di usia tersebut mereka sudah mengerti kegunaan dan manfaat uang.
Misalkan saja jatah uang saku mereka sehari Rp10.000,-. Selama seminggu kita hitung Rp10.000,- x 7 = Rp70.000,-. Berikan pada si kecil di awal minggu, yaitu hari Senin. Katakan pada anak bahwa uang tersebut untuk jatah sampai seminggu ke depan, tepatnya hari Minggu. Ajarkan dengan bahasa anak, sehingga lebih mudah dipahami. Minta si kecil untuk melakukan pengeluaran secukupnya untuk hal-hal penting dan mencatat semudah mereka memahaminya.
Dihitung transport ke sekolah PP Rp1500 x 2 x 6 = Rp18.000,-. Sesekali boleh jajan di sekolah, misalkan seminggu 3x, diasumsikan Rp3.000,- x 3 = Rp 9000,-. Kebutuhan lain-lain (iuran kelas, uang saku untuk ekstra kurikuler, iuran teman sakit) Rp 20.000,-. Jadi total kebutuhan 18.000+9.000+20.000 = 47.000. Karena uang jatah Rp70.000,- masih sisa Rp23.000,-. Uang tersebut bisa minta anak untuk ditabung, atau sebagian ditabung, sebagian untuk membeli buku.
Sangat sederhana, si kecil pasti mampu melakukannya. Selain ia belajar mengatur keuangan mungilnya sendiri, kita juga tak lupa memberi pemahaman padanya bahwa andai uangnya digunakan untuk kebutuhan yang tidak perlu dan sampai saat sebelum hari Minggu sudah habis, ia tahu resikonya. Yaitu, tak punya uang saku lagi. Tetapi andai ia bisa melakukan pengelolaan keuangan mungilnya dengan baik, ia bisa menabung dan sisanya dipakai sesuai keinginannya asal bermanfaat. Tentu dengan pendampingan dari orangtua.
Jadi tunggu apalagi, yuk, ajak si kecil dengan pengelolaan keuangan mungilnya.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Sebuah Mimpi



Sebuah Mimpi




Sumber Gambar: www.google.co.id
Pernahkah anda melihat film Laskar Pelangi? Atau mungkin membaca novel spektakuler karya Andrea Hirata tersebut? Belum pernah juga? Hmm… bagaimana dengan ini: mimpi adalah kunci untuk kita menakhlukkan dunia… lagu berjudul sama seperti film dan novelnya yaitu Laskar Pelangi yang dipopulerkan oleh grup band Nidji. Aha, lagu sederhana yang menginspirasi jutaan manusia untuk selalu bermimpi.
Dalam kisah Laskar Pelangi ada Ikal dengan keterbatasannya yang akhirnya fokus dengan mimpi yang berhasil diraihnya. Seperti juga anak-anak kita. Banyak mimpi dalam angan mereka, hanya saja orang tua sering mengungkungnya tanpa disadari.
Rina Dewi Lina, seorang  pakar Perencana Keuangan dan Inventasi serta Chief Operation Officer (COO) PT. Fokus Finansial mengungkapakan bahwa perencanaan financial harus dilatih dan dilakukan sejak dini. Contohnya saja seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan ayam yang di cat warna warni di pasar. Sang ibunda biasanya dengan berbagai alasan akan menolak karena ribet memelihara ayam.  Sesekali bebaskanlah anak mengikuti kata hatinya. Dengan memperbolehkannya memelihara ayam warna warni yang sangat menarik tersebut.
Mintalah untuk memeliharanya dengan baik. Support dengan membelikan makanan ayam, dan membantu membuat kandang ala kadarnya. Dari hal sepele tersebut anak belajar diberi tanggung jawab dan kedisiplinan. Karena ia harus merawat, memberi makan, membersihkan kandangnya dan lain sebagainya.
Pada saat ayam tumbuh besar, bertanyalah akan buat apa ayamnya. Boleh dijual atau akan terus dipelihara sampai beranak pinak, dengan beberapa konsekuensi yang harus diberitahukan kepadanya. Pilihan dan keputusan tetap berikan pada anak. Andai ia memilih terus memelihara, artinya harus terus rajin memelihara dengan pengarahan orangtua. Kalaupun dijual, uang hasil penjualan akan menjadi miliknya. Terserah akan ditabung di celengan ayam, atau dibelikan buku maupun kebutuhan lain yang sangat dia impikan.
Secara tidak langsung, ada banyak manfaat yang didapatkan lho. Anak menjadi tahu tanggung jawab itu seperti apa, suka duka dan proses tumbuh kembang ayam yang harus dipeliharanya, dan pada akhirnya, ia akan sedikit tahu tentang bisnis sejak dini. Karena untuk sekedar mendapatkan uang ia harus memelihara ayam dengan modal dari orang tuanya.
Butuh kerja keras untuk meraih mimpi. Proseslah yang akan mengajarkan padanya tentang seleksi alam dan tujuan terbesarnya hingga langit ke tujuh. Maka, teruslah bermimpi, karena mimpi selalu membuat gairah baru dengan energi tak terbatas ruang waktu.

Jumat, 03 Oktober 2014

Berkurban? Bisa!



Berkurban? Bisa!

“Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai Allah dari bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban.” (HR. Tirmidzi dan hakim).
Membaca hadist di atas, ada rasa sedih apabila sebagai muslim yang dirasa ‘mampu’ tak bisa berkurban saat hari raya Idul Adha tiba. Karena apa, sih? Yup, jawaban yang sering kita dengar adalah UUD alias ujung-ujungnya duit. Apa iya karena uang? Padahal banyak dari sebagian orang punya mobil lebih dari satu, motor ada beberapa bahkan tanah dan sawah yang berlebih, dan sebagian dari mereka tidak ingat berkurban. Sepertinya sangat mustahil apabila dibilang tidak mampu berkurban. Padahal, Allah sudah menjanjikan pahala yang sangat besar bagi yang mampu dan mau berkurban.
Menurut www.bbc.co.uk/indonesia di Indonesia sendiri tercatat 13,7 juta fakir miskin dari 30 juta warga miskin di Indonesia. Jadi masih sangat banyak rekan kita yang masih hidup di bawah standar. Untuk itu saat Idul Adha tiba dan ingin berbagi bersama sebagian yang membutuhkan, harusnya sudah kita rancang jauh-jauh hari perencanaan mungil agar pas hari H datang kita bisa berkurban sesuai dengan kemampuan.

                                 Sumber gambar www.google.co.id

Menurut Rina Dewi Lina, seorang Perencana Keuangan dan Inventasi serta Chief Operation Officer (COO) PT. Fokus Finansial, pilah-pilahlah kebutuhan dalam pos-pos sesuai kebutuhan. Bisa kita tuangkan dalam tips sederhana ini, antara lain adalah dengan menabung dalam pos khusus kurban. Bisa jadi menabung dalam RT, ataupun membuka rekening khusus di bank. Kalau lebih simpel lagi, beli tabungan macan, singa, ikan versi anak-anak. Tiap hari kita masukkan sejumlah rupiah yang sudah dihitung jumlah minimal agar tercukupi dalam pembelian hewan qurban.


Langkah lainnya, biasanya untuk yang hidup di daerah pedesaan. Tak perlu menabung uang atau membuka rekening segala. Beli langsung anakan kambing atau sapi (khusus sapi bagi yang sangat mampu, karena harganya memang mencapai puluhan juta). Dipelihara dengan baik, nah, saatnya Idul Adha tiba, bisa langsung digunakan sebagai hewan qurban.
Banyak cara menuju Roma, banyak cara juga agar kita bisa berkurban. Terlepas dari itu semua, niat dan keikhlasanlah yang membuat Idul Adha lebih bermakna. Jadi, mulailah start dari sekarang untuk rencana qurban mendatang. Insyaallah, Allah akan memberi kemudahan berlipat dan surgalah yang dijanjikan-Nya, amin…

Senin, 08 September 2014

Sumowono Carnival



Sumowono Carnival
Paling gemes kalau lihat berita atau baca koran tentang karnaval. Apalagi yang heboh banget foto-fotonya, ngiri, soalnya hidup di pedalaman, sepertinya mau lihat aja musti menempuh jarak berkilo-kilo meter. Ternyata acara merti deso kali ini ada acara karnaval di Desa Sumowono. Biar keren sebut aja Sumowono Carnival hehehe.
Eh, mungkin ada yang belum tahu murti deso itu apaan, sih? Yup, sejenis acara syukuran desa, agar warga aman tenteram, makmur, tercukupi dan diberkahi Allah SWT. Mungkin di daerah lain namanya sedekah bumi atau apalah, intinya hampir mirip, bersyukur atas apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita.
 Kembalike acara karnaval ehemm…Acaranya dimulai jam 9 pagi tadi. Mulai start dari lapangan Angkatan Darat yang ndilalah persis di belakang rumahku, jadi nambah semangat deh buat ngikut muter seluruh kampung. Mulai dari Karang Wetan, Sukorono, Sawah Gondang, terakhir Nyampuran. Tiap wilayah Dusun menampilkan macam ragam. Ada drum band, sekelompok topeng ireng, reog, naga yang panjang sekali, miniature masjid, gereja dll. Pokoknya tiap warga diharapkan ikut berpartisipasi.
Semoga acara ini membuat rukun warga, menambah kreatifitas, dan memberi energy berlebih lagi buat desa tercinta.
Dan ternyata, nggak hanya kota besar yang bisa bikin acara keren, desa sekecil Sumowono pun bisa ngadain acara yang super heboh ini lho.

So, ini dia foto-foto keren hasil jeperetanku dan yayang tercintah...


Gambar 1. Habis acara, langsung diserbu...

Gambar 2. Sepanjang acara, bola dunia ini digelindingkan lho, untung pemudanya kuat-kuat.

Gambar 3. Hmm... kupu-kupunya cantik banget, jangan salah, ini laki-laki sejati hehehe...
Gambar 4. Motonya kurang fokus, rame dan sesak sih, harap maklum ya :)

Gambar 5. Dandanannya keren nih, sayang nggak sempat foto bareng :)

Gambar 6. Banyak kuda dan kereta juga.

Gambar 7. Ini pusat keramaiannya, macet :)


Gambar 8. Kepala naga apa ya? *mikir*

Ahahai, semoga nggak diprotes karena motonya nggak begitu lihai. Buat desa tercintaku, Sumowono, semoga tambah maju, maju dan maju terus!