This is my heroes

Happy or unhappy, families are all mysterious. We have only to imagine how differently we would be described - and will be, after our deaths - by each of the family members who believe they know us. Gloria Steinem

5 Cara Dapat Biaya untuk Parcel Lebaran

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Family is the most important in alive

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Family

Family is the most important in alive. This is my family, the important things in my life

Sastra Penarawa di Eling Bening, Ambarawa

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 18 April 2016

Cinta Wayang, Cinta Budaya



Cinta Wayang, Cinta Budaya

Setiap ada perayaan di desa, ada satu tontonan yang kuusahakan  untuk nonton. Apalagi kalau bukan wayang. Selain sudah jarang, tidak setiap perayaan desa nanggap wayang. Paling dalam setahun hanya sekali dua kali ada tanggapan wayang. Tidak seperti dulu lagi, sunatan aja nanggap wayang. Bahkan pernah lho dalam setahun tidak ada tontonan wayang.

                                       Ki Dalang sedang beraksi :)
 
Nah, dalam rangka peresmian pasar desa Sumowono, Rabu, tanggal 13 April 2016 kemarin, ada beberapa tontonan di desa. Pagi acaranya jalan sehat, semua warga boleh ikut, tak ketinggalan reog serta organ tunggal. Pokoknya rame, deh. Malamnya, wayangan! Ini dia yang kutungu-tunggu. Buat ngenalin ke krucils juga tentang budaya bangsa yang sudah jarang ada. Kalau bukan kita yang nguri-uri budaya bangsa, siapa lagi?
Rabu malam ternyata hujan. Wah, nggak tega juga nanti krucils tambah kedinginan. Sumowono daerah pegunungan, berhawa dingin. Kalau hujan bakal makin dingin. Komat kamit berdoa semoga hujan lekas berhenti. Sebelum tidur krucils sudah resah dan gelisah takut nggak jadi nonton wayang, hihihi. Untunglah masih bisa dirayu jadi nggak rewel.
Sekitar jam 2 Kamis dini hari, hujan tinggal rintik-rintik. Suara klonengan dan sinden yang syahdu membuat nggak bisa tidur. Penasaran juga nonton wayang, sudah lama nggak nonton. Dengan susah payah berhasil juga bangunin krucils. Meskipun mata masih merem melek, mau juga diajak naik motor ke pasar lihat wayang.

                                       Tetap semangat meksi menjelang subuh

Sampai di sana, terlihat panggung sederhana dengan pajangan ratusan wayang di atas gedebog pisang. Beberapa penabuh gamelan serta 3 sinden dengan baju adat Jawa membuat krucils melek. Nggak jadi ngantuk, langsung semangat nonton.
Sayang, penontonnya bisa dihitung dengan jari, itupun sudah mbah-mbah semua. Kutanya pada seorang Bapak yang nonton tadi katanya penuh, cuma sudah pada pulang. Tampak di pojokan 2 orang pemuda yang ngurus sound system. Banyak penonton sarungan untuk menghalau hawa dingin yang menusuk tulang.
Ceritanya ternyata sudah goro-goro. Buto lawan Werkudoro. Haha, bener-bener deh sudah telat, tapi lumayan daripada nggak jadi nonton sama-sekali. Setelah tanya sana-sini Pak dalangnya Dalang Harsono, keren banget. Dengan lakon Wahyu Kamulyan Jati.
Menurut Mas Agus, penikmat wayang dan penjual di pasar pagi, kurang lebih lakon wayang itu bermakna bisikan dari Tuhan untuk kemulyaan hidup di dunia dan akherat yang sejati. Wah, Mas Agus ini walau nontonnya sebentar karena musti jualan, sempat  berbagi sama diriku. Matur nuwun pencerahannya Mas Agus, ya.

                  Dari depan panggung, hanya tampak segelintir orang, sarungan lagi, hihihi.
 
Yah, karena nggak lihat dari awal membuat alur dan ceritanya kurang lengkap. Saat nonton itulah krucils tak berhenti tanya ini itu. Tentang pajangan wayang yang ratusan, Ki dalang, sinden yang berbaju Jawa, penabuhnya, panggungnya, gedebok untuk nancepin wayang de el el. Hihihi, sampai capek menjawabnya.
Tak lupa juga aku ambil foto walau kurang begitu jelas hasilnya. Kuambil dari samping panggung. Eh nggak kuduga, di samping kanan panggung, penontonnya bejibun. Dari tua, muda, ganteng, cantik, segala macem ada, deh. Wah, mereka menikmati banget pagelaran wayang malam itu. Ternyata penggemar wayang masih banyak, ya, nggak hanya kalangan jadul doang.
Ketiga sinden yang cantik juga masih terus semangat, walau udara makin dingin menjelang subuh. Para penabuh gamelan yang biasa disebut niyogo wajahnya tetap ceria. Hebat banget kan mereka ini. Tanpa sengaja aku melihat termos disamping para sinden, Hihihi, ternyata untuk menahan kantuk mereka bikin kopi, juga miuman hangat yang lain. Penabuhnya juga dibikinin lho. 

                                 Ini dia selebarannya, kapan ada wayang lagi ya?

Menjelang subuh, geber hampir ditutup. Kita juga langsung pulang. Bangga juga bisa ngenalin wayang ke anak-anak. Nggak lebih 2 jam sih nontonnya, tapi sudah membuat anak-anak tahu warisan budaya yang kudu dilestarikan. Kalau bukan anak cucu kita, siapa lagi, hayo? Yuk cintai budaya dengan cinta wayang!


Selasa, 12 April 2016

Nambah Tumpukan Harta, di Shooping, Yogyakarta



Nambah Tumpukan Harta, di Shooping, Yogyakarta

Sudah lama banget nggak ke toko buku. Secara rumah nun jauh di pedesaan Sumowono. Toko buku paling dekat ke Salatiga atau bablas Semarang. Di Ambarawa dulu ada, namanya toko ABC. Dari Gamblok turun terus sekitar 500 meter. Tapi sekarang juga sudah tidak ada. Alhasil, cari dan beli buku-buku kalau pas ada  pameran buku di Ambarawa dan sekitarnya (yang masih terjangkau dengan naik colt). Hehehe... resiko hidup di desa.
Untungnya, tanggal 24 Maret 2016 bisa temenin anak piknik ke Yogya. Hore #jingkrak-jingkrak. Meskipun hanya Yogya, itu sesuatu banget buatku. Yogya itu ngangenin,  pokoknya I love Yogya, deh!
Tujuan pertama ke Gembira Loka lanjut berenang di Grand Pury. Sore saatnya ke Malioboro. Sudah kuagendakan, nih kudu mampir shooping. Udah semangat banget, ternyata busnya parkir di dekat Hotel Garuda. Ihiksss, mau ke shooping jauh dong, ya. Akhirnya diputuskan naik becak motor, bayarnya Rp20.000,00,  berempat. Dua dewasa, dua anak-anak. Nggak pakai nawar, bapak becaknya emoh-emoh banget ditawar. Yoweslah, yang penting sampai shooping.
Nggak ada seperempat jam sampai juga ke shooping. Pangling juga lihat shooping yang lebih rapi dan teratur ketimbang shooping jaman SMA dulu. Dulu, tiap beli buku pelajaran, andalannya ya shooping. Beli di toko buku nggak mampu wong harganya selangit. Selain bisa ditawar, habis dari shooping bisa langsung ke Malioboro. Hihihi, sekali dayung dua tiga pulau terlampauilah.
Karena penampakannya yang sudah berubah, bikin aku bingung. Mana nih langgananku dulu, ya? Bapak-bapak pendek dengan segala buku second dan buku pelajaran murah meriah. Lirik kanan kiri, tetap nggak nemu. Yaelah, entahlah.
Pokoknya, mata ijo lihat tumpukan buku yang buanyak pol. Kalap banget pingin beli semua, haha… buku, harta yang sangat berharga. Timbang bingung kelamaan, masuk juga ke sebuah kios. Aduh, makin bingung. Semuanya oke punya. Bagiku mah, buku apa aja aku mau, tapi inget duit di kantong. Belum beli oleh-oleh lagi, hihihi.

 Pilah pilih buku sebelum tawar menawar 

Ternyata nggak cuma aku yang bingung, jagoanku juga bingung. Yang mana, yang mana, bebas, bebas, dipilih, dipilih, semua jenis buku bisa menjadi temanku.
Uhui! Setelah milih ini itu bersama jagoan, akhirnya terpilih 17 buku. Mulai dari cerita bergambar pilihan si kecil sampai nemu buku serial kesukaanku, Lima Sekawan, hore! Maunya sih cari yang cetakan lama, second juga nggak masalah. Sayang nggak ada. Yah, belilah yang masih baru dengan harga yang miring sangad! So pasti pakai acara tawar menawar yang lumayan lama, hohoho.

Nambahin tumpukan harta, hihihi



Alhamdulillah, kesampaian juga ke shooping mborong buku-buku. Belum puas, sih, karena waktunya cuma 1,5 jam, sudah harus stand by di bus lagi. Balik lagi deh ke parkiran bus dengan segepok harta buku baru. Kangen Yogya lumayan terobati. Yang penting udah nambahin harta karun dengan judul buku baru. Bye Yogya… Jogja, Jogja, Jogja istimewa, untuk Indonesia. Pancen Yogya istimewa J

Sabtu, 09 April 2016

Bapak Tua Pembawa Bagor



Bapak Tua Pembawa Bagor

Dulu, aku sempat menganggapnya sebagai pengganggu. Saat ada pembeli dan Si Bapak ini (yang entah siapa namanya) nongkrong dengan manisnya persis di depan warungku. Bajunya compang camping, kotor dan bau tentu saja. Mau marah, nggak tega, mau ngusir apalagi. Meski diriku memandangnya penuh nista (dulu, sih) Si Bapak cuma diam tanpa ekspresi, eyalah... Waduh, sempat kepikir juga nih bapak setengah gila, depresi atau kurang waras, ya? 


                                 Menapaki hidup, dengan kedua bagornya

Beberapa pelanggan yang sudah biasa ke warung sih no problemo, tak masalah dengan penampakannya. Tapi pembeli baru, pasti akan memicingkan mata dan melihat dengan (maaf) sedikit jijik. Biasanya, kusodorkan beberapa recehan, dan Si Bapak akan menerima tanpa ekspresi. Syukurlah, lama kelamaan, walau tanpa ucap dan kata, Si Bapak itu tahu aja isi hatiku, hihihi. Nongkrongnya agak geser sedikit, bahkan sering nun jauh di depan warung, walau menyebalkan (lagi-lagi, itu duluuu…).
Akhirnya sebungkus nasi dan minum menjadi keseharianku saat kubuka warung dan melihat penampakan bagornya, eh bapaknya :D. Saat sehari nggak datang. Aku jadi mikir-mikir. Kemana ya, Si Bapak?
Nah, sudah 2 hari ini tak ada penampakan Si Bapak dengan bagornya. Tanya tetangga kanan kiri, geleng kepala. Malah heran aku menanyakan keberadaannya. Muterin pasar, juga tak terlihat batang hidungnya. Wah, kemana gerangan? Apa diciduk dinas sosial? Atau, sakit? Atau, ngelayap kemana, ya? Segala tanya akhirnya hanya kubatin.

                                     Nikmat banget makan nasi bungkus :)



Alhamdulillah, di hari ketiga, nun jauh kulihat kedua bagornya (yang entah apa isinya) tentunya bersama Si Bapak tersebut. Lega rasanya, sebungkus nasi dan minum segera kusodorkan saat dirinya duduk manis agak menjauh dari warung. Meski tanpa ekspresi, tanpa kata, matanya ramah, dan penuh semangat  makan nasi bungkus. Hem, entahlah, terenyuh banget melihatnya.
Sekarang, walau tanpa ucapan Si Bapak tua pembawa bagor ini ngerti banget, lho. Tahu aja kalau pas ada pembeli, selalu nongkrong di tempat yang tak mengganggu para pelanggan warungku.


Selasa, 16 Februari 2016

Antara Pajak dan Bisnis Online



Antara Pajak dan Bisnis Online

Bisnis online melesat cepat akhir-akhir ini. Masih gres dalam ingatan Desember 2015 Bukalapak mengadakan harbolnas (hari belanja online nasional). Diskon besar-besaran selama 3 hari tersebut dimanfaatkan banyak orang yang maniak belanja online untuk memenuhi kebutuhannya. Tak bisa dipungkiri bahwa belanja online sudah semakin merakyat di masyarakat.
Berbisnis online dengan pangsa besar memang hasilnya sangat menjanjikan. Denyut nadi tumbuh kembang pelaku bisnis online rumahan juga semakin kencang. Tak hanya di kota, di desapun bisnis ini mulai menggeliat. Banyak UMKM (Usaha Mikro Kecil  Menengah) yang melebarkan sayapnya tidak hanya jualan offline, tapi online  terus digenjot.

                                   Sumber gambar: http://www.hartaku.com

Yang perlu kita perhatikan adalah berapa pajak yang harus dibayarkan untuk bisnis online ini. Ya, pajak tidak hanya dikenakan pada bisnis offline, tapi juga online. Bagi yang masih bingung, tak perlu khawatir, dalam perhitungan pajak ini ada konsultan pajak yang siap membantu menerangkan tentang pajak itu sendiri. Sepaket dengan perhitungan seperti apa yang harus dilakukan.
Zeti Arina, seorang konsultan pajak dan penggagas www.artharayaconsult.com mengatakan, "Yang ada pajak penghasilan yang dikenakan terhadap wajib pajak yang secara subjektif dan objektif dari pelaku usaha online, yang telah memenuhi syarat sebagai wajib pajak." Ini sesuai dengan aturan Pengusaha Kena Pajak (PKP) atau PP No 46/2013 dimana pajaknya 1 %. Untuk lebih lanjut menunggu pengumuman aturan resmi dan diharapkan tidak memberatkan pelaku bisnis online.
Ibu enerjik dan cantik ini yang juga ketua IKPI (Ikatan Konsultan Pajak Indonesia) Surabaya juga mengungkapkan bahwa tak ada perbedaan pajak antara bisnis online maupun offline. Karena perhitungannya juga sama. Pajak bisnis online merupakan pajak penghasilan yang apabila dalam setahun omzetnya kurang dari 4,8 milyar dikenai pajak 1% dari omzet. Pembayarannya dapat melalui bank menggunakan bukti setoran pajak. Kemudian dilaporkan langsung ke kantor pajak.
Pajak bagi sebagian orang memang menakutkan. Mengurangi pendapatan, ribet, repot dan segala alasan yang membuat orang makin kurang minat taat pajak. Tapi, perlu diingat, lho, bahwa dengan membayar dan melaporkan  pajak dalam bisnis online ini, membuat profil harta secara perpajakan meningkat. Selain itu jelas akan terhindar dari sanksi. Diharapkan bisnis online makin lancar karena kita makin focus menggenjot penjualan.  Yuk terus maksimalkan penjualan tanpa melupakan pajak.