This is my heroes

Happy or unhappy, families are all mysterious. We have only to imagine how differently we would be described - and will be, after our deaths - by each of the family members who believe they know us. Gloria Steinem

5 Cara Dapat Biaya untuk Parcel Lebaran

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Family is the most important in alive

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Family

Family is the most important in alive. This is my family, the important things in my life

Sastra Penarawa di Eling Bening, Ambarawa

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 07 Juni 2016

Serba Serbi Puasa di Kost, dari Antre sampai Kolak Hilang



Serba Serbi Puasa di Kost, dari Antre sampai Kolak Hilang

Serba serbi ramadhan saat kost di Yogyakarta memang menakjubkan. Ada cerita menarik yang selalu kuingat sampai sekarang. Kisah ini membuat kenangan tentang kost tak lekang dikenang usia.
Aku lupa entah hari keberapa di bulan ramadhan. Mendadak ada teman dengan semangat `45 ngajak berbuka ke Pizza Hut. Ragu sih, duit jatah menipis, masa makan pizza? Eh, si teman paham banget wajah memelasku. Lalu ngerayu plus embel-embel. “Gue yang traktir, deh.” Siapa sih yang sanggup nolak gratisan! 

                                                Sumber gambar: http://www.mydpbbm.com

Alhasil, jam 5 kita otw ke Pizza Hut Jl. Sudirman. Yaelah, parkiran mobil sama motor sudah penuh. Tapi kita pede aja lagi masuk dan syukurlah masih ada tempat duduk yang tersisa. Langsung pesan dan pelayan melayani dengan ramahnya, tak lupa bilang: “Ditunggu ya, Mbak, Mas.” Kami berdua mengangguk dan tersenyum kompak lalu mulai asyik ngobrol..
Sedetik, semenit, sejam, horee… suara adzan magrib pun berkumandang. Dan pesanan belum datang juga #hikss. Malah antrean makin panjang saja. Untung kubawa air mineral, kita bisa membatalkan puasa dengan minum ala kadarnya, alhamdulillah. Pesanan pizza datang setengah jam kemudian. #Maghribtelat.
Kisah kedua waktu terburu beli buka puasa habis praktikum. Jam menunjukkan pukul 5 lebih. Jalanan menjelang buka puasa selalu macet. Beli gorengan dan kolakpun musti sabar dengan antrean bejibun. Nggak perlu dorong-dorongan apalagi emosi, malah dosa.
Setelah dapat seplastik gorengan dan kolak, ngebutlah balik ke kost. Apalagi dengar adzan maghrib, makin ngebut. Yaelah sampai di kost aku melongo. Ternyata bungkusan kolak yang kucantel di motor, entahlah jatuh kemana. Nasib, nasib, pasti gara-gara naik motor ngebut di jalan gronjalan hingga nggak sadar kolak terjatuh. Untunglah gorengan beda plastik selamat, masih aman bisa buat berbuka. #Maghribtelat. Lagi dan lagi…
Nah, daripada mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan, kukasih tips jitu biar buka puasa di kost jadi lebih bermakna dan yang pasti menghindari sholat maghrib terlambat. Cekidot:

1.    Kalau mau beli makanan jauh-jauh deh sebelum magrib. Selain terhindar dari macet dan antre, juga bisa memilih makanan yang kamu sukai dengan leluasa. Jam 2-an biasanya para penjual sudah siap, kok. Tapi ya ada tapinya, dijamin makanan yang dibeli sudah nggak hangat lagi. 
2.    Pesan ke penjualnya habis sholat dhuhur. Pasti kita punya warung langganan dan kenal  baik, kan? Jadi, sesaat seelum berbuka kita bisa langsung ambil makanan pesanan kita karena sudah disiapkan oleh mereka. No antri no telat sholat maghrib.  
3.    Pesan catering. Nih lebih tepat waktu, semoga aja nggak bosan dengan menunya, oke? 
4.    Masak sendiri atau rame-rame bareng anak kost yang lain. Ini bisa dilakuin kalau sempat, karena yakin deh jadwal akademis padat banget. 
5.    Rajin ikut buka puasa bareng teman yang nggak kost. Hehe, sesekali nggak apa, kan. Buat yang bikin acara buka bersama di rumahnya, pasti pahalanya berlipat deh, amin.

Semoga dengan tips di atas, berbuka di kost nggak pake ribet dan bisa sholat maghrib berjamaah di masjid/kost. Selamat menunaikan ibadah puasa :)

Sabtu, 14 Mei 2016

Fenomena Sepatu , Hitam VS Mejikuhibiniu



Fenomena Sepatu , Hitam VS Mejikuhibiniu

Kalau kita perhatikan anak-anak pulang atau berangkat sekolah. Mayoritas sepatu mereka berwarna hitam. Aturan sekolah barangkali. Tapi saya terkaget-kaget saat seorang teman sastra dari Temanggung berkisah anaknya yang duduk di bangku SMP malah sekolah pakai sandal gunung. Wah ini luarrr biasa sekali. Berarti alpine, eiger makin moncer.

                       Sumber gambar: https://lawakantentanghidup.wordpress.com
Eh tentang sandal gunung ini, saya jadi teringat jaman kuliah. Kebanyakan anak mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) memiliki sandal gunung. Namanya juga pecinta alam, nggak valid kalau nggak punya sandal gunung.
Saya sih menyebutnya sepatu sandal. Karena, kalau bagian belakangnya dilepas dan direkatkan ke depan jadi sandal semacam selop. Andai dipakai sebagaimana mestinya jadilah sepatu (yang tidak tertutup rapat). Alhasil sebagian orang menyebutnya sepatu sandal. Setengah sepatu setengah sandal, sejenis siluman. Tak masalah, kaki tetap bisa tertutupi dengan kaus kaki.
Dan, suatu decade tertentu, ada dosen yang menyentil mahasiswa (yang notabene anak mapala) yang pakai sandal gunung itu. Si mahasiswa memakai seperti sandal selop. “Di kampus, mbok ya yang sopan, ojo pakai sandal,” nasehat Pak Dosen waktu itu. Tak perlu banyak cingcong, si mahasiswa akhirnya membuka perekat selopnya, ditautkan ke belakang, jadilah sepatu sandal. Sambil meringis, dan mengangguk takjim ke sang dosen. Dosen hanya gedeg-gedeg, segera berlalu sambil tak lupa beristighfar berkali-kali.
Kembali ke sepatu hitam, kalau kita cermati, baju SD (khususnya negeri) adalah merah putih, SMP, biru putih, SMA, abu-abu putih. Itu diluar seragam khusus sekolah masing-masing. Tetapi lihatlah sepatunya, ya hitam. Kenapa nggak milih warna sepatu merah, biru, abu-abu atau putih saja, sih? Aturan, kata Mas Adji Atmoko, penulis FTV dari Baran, Ambarawa. Bayangkan kalau seragam pramuka sepatunya kuning, nggak nyambung, ya.
Hitam memang warna netral, semua orang tahu. Hitam juga warna sik medeni, bersahabat erat dengan horror. Coba diingat film almarhumah Suzanna, dikala hantu, setan, demit , pocong atau jin muncul. Kegelapanlah yang menyertai mereka. Jarang mereka diikuti warna kuning keemasan atau biru laut, hehehe.
Hitam identik juga dengan suasana berkabung. Sangat jarang orang melayat berbaju cetar membahana dengan warna mencolok bak mau kondangan. Selain dapat bisik-bisik nggak enak, bakal jadi sindiran. Terutama di desa yang masih menjunjung tinggi segala adat sopan santun.
Hebatnya lagi, ada juga sekolah yang menyediakan cat warna hitam untuk muridnya yang tak punya sepatu hitam. Bu Yanti, seorang guru dari Ambarawa membisikkan itu pada saya. Salut deh, artinya itu memudahkan dan meng-irit-kan pengeluaran orang tua murid degnan cara mengecat berjamaah.
Tapi, banyak lho yang tak memakai sepatu hitam itu melanggar aturan, ujung-ujungnya dianggap anak nakal. Dihitung pakai rumus aljabar atau fisika kuantum-pun, tak bakal nemu kalau sepatu hitam ini dikohesikan dengan anak nakal. Lha opo hubungane? Toh, orang bertato dan gondrongpun belum tentu preman. Orang berpeci dan bersarungpun belum tentu alim.
Jadi, kalau ada anak sekolah hari Senin nggak  pakai sepatu hitam jangan lantas digosipkan sebagai anak nakal, nggak manut aturan. Berhusnudhonlah, bisa jadi sepatu hitam polosnya masih belum kering karena Ahad-nya dicuci dan hujan deras seharian. Atau sepatu hitamnya sedang dipinjam tetangga.
Penulis puluhan antologi dan pemenang berbagai even kepenulisan, Arinda bilang, kalau anaknya yang masih TK sepatunya boleh warna warni. Mejikuhibiniu, belang-belang, dong, hihihi. Ah, untuk anak TK apa sih yang kita tak menurutinya. Anak-anak sangat butuh warna warni. Dunia bagi mereka pelangi. Bayangkan kalau hanya mengenal satu warna hitam aja, kacian…
Instruktur senam dari Semarang, Widati malah menanyakan hal yang bikin saya terkikik geli, “Gimana kalau sepatu anak sekolah kanan dan kiri berbeda, Mbak?” hahaha, saya akhirnya terbahak sendiri. Entahlah, saya tak bisa membayangkan kalau hal itu terjadi. Bisa jadi tahun depan booming, sekarang, sudah banyak sandal dengan warna “selen”.
Tapi waktu anak saya TK, saya cat rambutnya menjadi coklat marun, kena sentilan setilin dari bu gurunya, lho. Canggihnya lagi, saat alasan yang sangat logis saya beberkan dengan penuh semangat berapi-api, malah dapat cibiran emak-emak penunggu anak yang lain. Tapi kata Mas Adji, itulah bentuk mesyukuri nikmat Sang Khalik (dengan rambut berwarna hitam) dan apa adanya. Saya manggut-manggut, setuju dengan pendapat beliau ini.
Bagaimanapun, sepatu hitam memang netral, kok. Sastrawan asal Temanggung, Dini Rahmawati malah tanya: “Kok nggak warna seragamnya yang dibahas, Mbak? Toh hitam netral.” Saya manggut-manggut. “Hematnya lagi, sepatu bisa dipake dari SD sampai SMA.” Wah saya tambah mengangguk lebih dalam. “Dan kalau kekecilan bisa dilungsurke adine atau tetanggane.” Wah ini, saya angkat topi dengan ungkapannya yang bener bingit.
Lagipula ngapain ribet sih urusan sepatu hitam atau sepatu mejikuhibiniu? Biar nggak ada jurang pemisah atas dan bawah? Itu pasti. Konfliknya kan ungkapan tentang bagaimana pemerataan ekonomi sebuah planet antah berantah. Keseragaman Mas Bro. Nah lho, jadi kenapa kita harus ribet. Sepatu itu urusan kaki, kenapa dihubungkan dengan pemerataan ekonomi? Hihihi, bahasa fenomenal Gus Dur pun mencuat kembali. “Halah, gitu aja kok repot…”


Sabtu, 30 April 2016

Menari di Atas Kanvas



Menari di Atas Kanvas

Melukis itu hobi lama yang sudah lama mati. Mati suri tepatnya. Terakhir lukisan dimuat di Majalah Bobo jaman aku kelas 3 sekolah dasar. Hihihi, sudah lama bingit, kan? Tapi eh, tunggu, aku sempat menerima pesanan lukisan seorang kawan, harga teman pastinya, hem…
Lama banget nggak bersentuhan dengan kuas dan kanvas, eh ada pameran lukisan di pendopo Kec. Ambarawa. Sudah lama sih, tapi baru sempat menulisnya sekarang. Tak apalah, yang penting bisa berbagi tulisan buat mas bro dan mbak bro di sini, haish…
Tepatnya 26 Desember 2015, hah? Sudah tahun lalu,ya? #baru nyadar. Sehabis kopdar Penulis Ambarawa dadakan di rumah Bu Yanti di Kaliputih, mampir juga akhirnya ke tempat pameran lukisan. Matur nuwun buat Mas Adji Atmoko yang telah dengan senang hati mengantarku sampai ke TKP. Langsung kabur dia, hehehe. Masuk, deh, tingak tinguk nggak ada yang kenal, pede aja bergegas lihat lukisan yang dipajang.
            Wih, keren-keren lho lukisannya. Ternyata, di situ juga disediakan tempat melukis buat pengunjung yang ingin melukis. Wah wah, kesempatan nih, biar jemari lentur lagi bisa menggoyangkan kuas di atas kanvas. Jadilah kubeli media kanvas seharga Rp12.500. Sedangkan catnya sudah disediakan, gratis. Ada juga pelatihan melukisnya, lho.
Iseng-iseng akhirnya pingin juga melukis. Meski tangan kakunya setengah mati.

                                        Lama tak melukis, hosh hosh hosh!

Hasilnya? Tara!!

                                  Harus pede dengan karya sendiri, hihihi...

Ternyata, kepala suku Penulis Ambarawa, dateng juga ke situ. Yaelah Mas Agus Surawan, tahu gitu mbokya tadi aku nebeng, ya. Tiwas ngerepotin Mas Adji, hadweh. Ternyata dia udah janjian sama yang ngajarin ngelukis. Etahlah apa yang ada di pikian Mas Agus, mo melukis mikirnya serius amat. Aku sampai geli melihatnya.
Hem, tenyata melukis asyik juga, ya. Secara sebenarnya aku lebih suka melukis daripada menulis. Tapi ke sini, menulis juga asyik. Nah lho, bingung, kan? Tapi bagaimanapun, melukis adalah jiwa. Nggak boleh ada paksaan dalam berkesenian. Tuangkan apa yang ada di kepalamu, sejukkan, senyapkan, jadikan. Intinya ojo separo-separo!

Jumat, 22 April 2016

Dari Tawang ke Pasarturi



Dari Tawang ke Pasarturi

Ahad, 17 April 2016 adalah hari yang kutunggu. Hari itu Penulis Ambarawa mengadakan kopdar di Aula Mater Alma, Ambarawa. Sayangnya, Sabtu, tanggal 16 April 2016 aku harus ke Surabaya karena dapat kabar duka om meninggal. Kuputuskan untuk berangkat ke Surabaya bersama Mbakyu dan Masku. Artinya, aku nggak jadi ketemuan dengan teman-teman komunitas Penulis Ambarawa. Tak apalah, lain waktu insyaallah bisa ngumpul lagi bareng mereka.
Biar nyaman, diputuskan naik Kereta Api dari Stasiun Tawang. Pilihan jatuh ke KA Harina, kelas eksekutif. Jam berangkat 05.30 WIB, on time.
Karena pagi banget, jam 03.30 WIB kami berangkat dari Sumowono. Brrr, udara dingin menusuk sampai ke tulang. Bangunku dari jam 1 dini hari, lho. Hoahem, masih ngantuk berat. Bereskan ini itu karena krucils bakal kutinggal seharian.
Dengan diantar sopir kami menuju Stasiun Tawang. Seumur-umur, baru sekali ni ke stasiun yang terletak di Semarang ini. Di sana, ada beberapa titik perbaikan yang belum selesai digarap. 

                                              Stasiun Tawang, Semarang

Karena beli tiketnya online, kita musti nyetak sendiri di tempat yang sudah disediakan. Ada 4 komputer waktu nyetak tiket. Di samping kanan pintu masuk, masih banyak komputer. Kita isi kode tiketnya, sentuh kata cetak, tercetaklah tiketnya. Eh, waktu ambil kertas tiketnya, hati-hati, ya. Agak susah, kudu ekstra hati-hati biar nggak sobek. 

                    Tiket KA. Harina, waktu ngeprint nyobeknya hati-hati, lho :)

Awalnya bingung juga lha wong kami bertiga sudah lama nggak naik KA. Terakhir kuingat naik pramex, jaman masih ngantor, dari Yogyakarta menuju Solo.  Tiketnya Rp5000,00. Itupun beli di loket. Di dalam kereta dijeglok sama kondekturnya. Di stasiun masih banyak pengamen dan penjaja asongan.
Ternyata sekarang sudah beda banget sama dulu. Stasiun bersih, nggak ada yang maksa kita beli ini itu, aman tentram damai sejahtera. Dulu, ngantuk dikit aja sandal bisa hilang, lho.
Masuk di ruang tunggu, tempatnya bersih dan nyaman. Gedungnya juga keren banget, bangunan kuno yang pastinya banyak menyimpan cerita sejarah. Kita langsung kasihkan tiket ke petugas plus perlihatkan KTP. Sambil nunggu KA Harina datang, aku perhatikan stasiun yang bersih. Toiletnya juga bersih dan gratis. 

 Ruang tunggunya keren, langit-langitnya tinggi. Gedung kuno yang sangat eksotis.

                  Tempat  ngecek tiket KA. Lihat aja bangunannya, kuno dan unik

Jam 5 kita naik ke atas KA Harina. Segerbong hanya terisi 10 orang, nggak penuh. Ada 2 TV di pojok gerbong. Isinya tentang pelayanan KA. Dilanjutkan film Jacky Chang menemani perjalanan. Entahlah judulnya apa. Di depan masing-masing tempat duduk ada 2 colokan, bisa buat nge-charge gadget yang kita bawa.
Gerbong KA juga bersih, lho, setiap sejam sekali petugas cleaning service (di baju bagian punggung tertulis on trip cleaning) siap membersihkan gerbong. Pramugara dan pramugari KA juga menawarkan sarapan pagi. Kita beli nasi goreng dan teh manis, harganya Rp25.000,00. Sehabis sarapan ditawarin juga snack, berupa kacang dan cemilan lainnya. Kubeli kacang atom seharga Rp8000,00.
Sepanjang perjalanan mayoritas pemandangannya sawah. KA berhenti sebentar di Stasiun Ngrombo, untuk menurunkan penumpang. Dari situ lanjut ke Stasiun Cepu. Sehabis Stasiun Cepu ini, selain sawah, terlihat banyak hutan jati. Bayangin kalau dijual pasti tumpukan duitnya segunung, hohoho.
Pukul 08.11 WIB sampailah di Stasiun Bojonegoro. Lanjut Stasiun Babat pukul 08.50. Karena tidur, aku nggak catet stasiun mana lagi yang terlewati, hehe. Pokoknya tepat pukul 09.57 WIB sampai di Stasiun Pasarturi. Alhamdulillah

                                Sampai juga di Stasiun Pasarturi, Surabaya

Di pintu keluar Pasarturi, sudah rapi berjejer para sopir taksi dan abang becak menawarkan diri. Untunglah, ada sepupu sudah menjemput. Kita langsung meluncur ke Jalan Mojo, rumah Om. Ternyata naik kereta sekarang dan dulu beda, ya. Itulah sekelumit cerita dari Tawang ke Pasarturi, semoga berguna buat semuanya. Salam semangat!