This is my heroes

Happy or unhappy, families are all mysterious. We have only to imagine how differently we would be described - and will be, after our deaths - by each of the family members who believe they know us. Gloria Steinem

5 Cara Dapat Biaya untuk Parcel Lebaran

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Family is the most important in alive

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Family

Family is the most important in alive. This is my family, the important things in my life

Sastra Penarawa di Eling Bening, Ambarawa

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 18 Agustus 2015

Aldi Ferdian, Sukses dengan Berbagi



Aldi Ferdian, Sukses dengan Berbagi

Mengumpulkan pundi uang, kerja tanpa lelah adalah hal biasa yang kita lakukan dalam dunia yang memang makin ‘keras’ ini. Terkadang, kita tak memikirkan kata berbagi. Adanya bangun pagi, kerja, pulang malam, urus anak sebentar, tidur. Rutinitas yang membosankan. Kadang sentilah besar tak membuat kita sadar akan indahnya  berbagi, tapi sentilan kecil bisa membuat kita menangis meraung. Betapa diri kita kosong meski dilingkupi dengan keuangan, keluarga, dan kenyamanan hidup. 

                                                         Aldi Ferdian

Adalah Raden (Rd) Aldi Ferdian. Lelaki kelahiran 1979 ini sudah menyukai dunia bisnis sejak kecil. Dengan menyewakan buku yang dimilikinya serta menjual gambar tempel. Kehidupannya berubah dari karyawan menjadi pengusaha berkat mimpinya. Menjadi karyawan perbankan membuatnya merasa jenuh, padahal karirnya sedang menanjak. Keputusannya berani melepaskan zona nyaman serta ingin membuat mimpinya dan mimpi orang lain menjadi kenyataan patut kita acungi jempol.
Dunia bisnis mulai ditekuninya, mendirikan sebuah Production House, juga merambah ke koperasi dana usaha. Owner Cakradhara Group  ini semakin melejitkan bisnisnya dalam berbagai aspek. Bisa kita lihat di http://www.cakradhara.com/. Bisnisnya semakin berkembang bagus setelah Aldi berbagi kepedulian dengan mendirikan sebuah asrama yatim piatu. Bersama kedua rekannya, Aldi mengumpulkan biaya untuk asrama tersebut. Dan hasilnya, asrama berikut menyusul pembangunannya.
Hasil lain? Niat berbaginya yang tulus menimbulkan kesempatannya merambah bisnis lain. Sebuah peluang yang tak disangkanya datang, menjadi Financial Engineering & Consultant, Investor. Banyak bidang yang melingkupinya, dari bisnis jamur tiram, ada juga perkebunan cabe,  media digital, properti dan beberapa bidang lainnya.
Saat anak buahnya ingin membangun sebuah usaha, Aldipun semangat untuk membantunya. Kadang rejeki datang dari arah yang tak pernah kita ketahui. Yakinlah, setiap tertutup satu pintu, Allah akan membukakan pintu rejeki yang lain. Itulah kenapa Aldi selalu mau membantu orang lain untuk bermimpi dan berbagi. Dengan berbagi, uang kita tidak hanya di kantong dan deposito bank, tetapi dari apa yang kita sedekahkan buat orang lain. Sebuah tabungan akherat yang akan membuat kita bahagia luar dan dalam. Sukses adalah saat kita ikhlas berbagi. Salam semangat!

Sabtu, 27 Juni 2015

Sukses ala Veronica Ratnaningrum



Sukses ala Veronica Ratnaningrum

Bisnis erat hubungannya dengan marketing. Pemasaran suatu produk akan berhasil dengan baik apabila promosi dan ahli marketingnya juga baik. Produk bisa mati pasaran apabila ahli marketingnya berantakan. Kita contohkan saja sales parfum yang tidak begitu memahami apa yang dijualnya. Wangi apel dikatakan wangi kamboja, pasti calon konsumen jadi bingung dan tidak percaya lagi. Akhirnya, konsumen tidak tertarik dan tak jadi membeli produknya.

                                      Veronica Ratnaningrum sebagai women marketer 
                                        (Sumber gambar: http://www.kompasiana.com)

Nah, marketing memang bukan hal yang biasa saja. Seperti halnya Veronica Ratnaningrum. Dia adalah woman marketer muda yang sangat diperhitungkan untuk saat ini. Meskipun ahli marketing kebanyakan adalah kaum pria, perempuanpun tak kalah hebatnya. Malah, menurut perempuan yang biasa dipanggil Vey ini, perempuan akan lebih jeli dalam menentukan langkah sebuah pemasaran produk. Karena, selain lebih konsumtif dan pemakai produk, perempuan juga bisa membaca peluang pasar. Sebagai pemakai itulah perempuan bisa lebih memilih mana produk yang bagus dan tidak. Lalu bisa memutuskan akan membeli yang mana. Kejelian semacam ini yang membuat Vey bisa lebih tahu, pemasaran dan target pasar yang seperti apa yang bisa dibidik. Sehingga hasil dan kesuksesan  bisa diraih secara maksimal.
Veronica Ratnaningrum sebagai women marketer memang tak diragukan lagi kualitasnya. Sentuhan dan sepak terjangnya dalam mencari solusi dalam pemasaran suatu produk sudah begitu canggihnya. Hal sepele yang orang tak pikirkan, akan menjadi hal penting yang membuat jalan pamasaran lebih mulus. Detil produk yang dipahami women marketer lebih bisa meyakinkan calon pembeli. Semakin calon pembeli tahu dengan jelas produknya, kemungkinan besar produk akan laris manis. Selain itu hubungan dan sikap yang baik juga harus selalu diutamakan.
Bagaimanapaun, sebagai women marketer, harus menjaga hubungan baik dengn klien, mempunyai sikap yang baik, tutur kata sopan, tapi tetap harus smart dan fokus. Ya, hal kecil dan sepele selalu menjadi perhatian utama untuk menuju kesuksesan. Kunci sukses orang sukses ala Veronica Ratnaningrum selalu bisa menjadi pembelajaran buat kita semua. Karena sukses adalah hak setiap orang.

Zeti Arina dan Pajak



Zeti Arina dan Pajak

            Kata pajak jarang jadi perhatian, beda dengan kata diskon. Diskon jadi perhatian khususnya kaum hawa. Saat di supermarket, selain total  harga yang musti kita bayar saat mendapatkan struk pembelian, kata kedua yang akan kita perhatikan adalah kata diskon. Iya apa iya? Ya begitulah. Normal dan wajar apa adanya. Apalagi buat ibu rumah tangga. Harga murah dan diskon adalah berkah. Pasti dikejar, meskipun tahu barang diskon sebagian besar adalah barang lama, cuci gudang ataupun barang baru yang harganya sudah dinaikkan, baru didiskon.

                                                   Zeti Arina sebagai konsultan pajak 
                                           (Sumber gambar:  http://poltek.ubaya.ac.id)

            Bagaimana dengan pajak itu sendiri? Pernahkah terpikir kita akan mengamati tulisan pajak di dalam struk? Iya, tapi jarang. Sebagian  besar karena tak mengerti, tak peduli, dan tak mau tahu. Pajak bagai momok bagi sebagian orang. Tapi, pajak juga bukan apa-apa bagi sebagian masyarakat awam. Salah satu penyebabnya karena masyarakat awam tidak begitu peduli dan tak mengerti dengan pajak. Jarang bersentuhan langsung dengan pajak.
            Tapi tidak begitu dengan Zeti Arina sebagai konsultan pajak. Karena berbagai hal itulah yang mendorongnya menjadi seorang konsultan pajak yang bisa mengedukasi masyarakat akan pentingnya pajak. Ketua IKPI (Ikatan Konsultan Pajak Indonesia)  wilayah Surabaya ini tak kenal lelah memperkenlakn pajak pada masyarakat luas. Pemahaman akan pajak, pentingnya pajak, juga perhitungan pajak yang harus dibayarkan. Pajak memang rumit dan kadang menakutkan. Tapi tidak harus dihindari. Beberapa jenis pajak memang membutuhkan perhitungan yang ribet.
            Zeti Arina sebagai konsultan pajak, bergerak pelan tapi pasti. Siap membantu siapapun agar peduli dan tahu akan pajak. Mau taat pajak tapi tidak tahu pajak apa saja yang harus dibayarkan? Punya bisnis yang mulai berjalan tapi tidak tahu perhitungan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk bayar pajak? Tak perlu takut dan ragu, apalagi sampai melamun tujuh hari tujuh malam. Serahkan saja pada pakarnya, dijamin akan cepat dan akurat penyelesaiannya. Tidak ribet dan bikin kita nyaman. Yuk,  lebih bersahabat dengan pajak!

Sabtu, 16 Mei 2015

Menulis Lagi



Menulis Lagi

Sumber gambarhttps://www.islampos.com

Siapa yang suka menulis? Ngacung! Dan saya adalah orang pertama yang akan ngacung kalau ditanya seperti itu. Itu sekarang. Dulu, menulis hanyalah hobi kesekian dan kesekian. Di daftar atas masih banyak hobi yang lebih penting dan menjanjikan. Mata melek setelah hati meledak saat teman di suatu perkumpulan bilang, sekolahnya sih tinggi, sayang hanya jadi ibu rumah tangga. Eng ing eng, sakitnya tuh di sini! Benar, sungguh sakit banget kalau ingat itu semua.  
Tapi, sakit kalau dirasakan terus menerus bisa jadi darah tinggi, stroke atau jantungan. Nggak mau, kan? Akhirnya berfikir positif adalah cara termudah untuk menghilangkan kekesalan hati. Coba kita lihat daftar kegemaran kita. Pilih salah satu, yang bisa membuat orang lain menyadari keberadaan kita. Pilihan jatuh pada satu daftar terbawah. Menulis!
Memasuki sebuah komunitas bermental baja dan meyakinkan menjadi langkah selanjutnya. Sadar dengan kesibukan rumah, dunia maya menjadi salah satu alternatif. Pilihan jatuh ke komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN). IIDN selalu memberitahukan kabar terbaru di dunia kepenulisan. Komunitas ini didirikan oleh Indari Mastuti, senior yang sudah melanglang buana dalam bidang kepenulisan. Dari sinilah bakat terpendam yang sudah mati suri terasah lagi. Lambat laun, proses demi proses bisa terlewatii dengan baik.
Dari sebuah tangan Indari Mastuti pula berdiri Indscript Creative. Sebuah perusahaan yang menawarkan jasa bidang penulisan dan training. Di sini, banyak traning kepenulisan yang diadakan. Bagi penulis pemula, yang masih kembang kempis semangatnya ataupun penulis yang sudah tenar, Indscript Creative adalah teman sejati.
Pelajaran yang bisa didapat, jadikan `kalimat negatif` sebagai lecutan agar menjadi lebih baik. Putar balikkan fakta bahwa kita mampu berkarya walau hanya berstatus ibu rumah tangga. Dari kepenulisan, bisa jadi ladang penghasilan tambahan, menambah teman, dan dapat ilmu yang sangat luar biasa. Menghasilkan sebuah karya tulisan, baik buku, artikel, yang terpambang di media atau blog, telah membuat orang-orang yang dulu meremehkan berbalik arah senyum manis ke kita. Sungguh,  bahagianya tuh di sini!


Mengejar Cita, Menaklukkan Dunia



Mengejar Cita, Menaklukkan Dunia

Cita-cita kadang tak sesuai kenyataan. Penginnya jadi dokter, eh malah jadi guru. Maunya menjadi tentara, malah jadi pedagang. Sedihnya, kalau cita-cita tak didukung orang tua. Mau berkembang dan bergerak jadi sering nggak enak dan bikin ribet. Biasanya, ada alasan tertentu mengapa orang tua tak mendukung keinginan kita. Bisa jadi biaya sekolah yang tinggi, penghasilan yang didapat tak bisa untuk bertahan hidup, atau, mereka ingin kita melanjutkan bisnisnya.

                                                 Sumber gambar: http://ciricara.com/w

 

Begitu pula dengan Zeti Arina, sebagai konsultan pajak dan ketua IKPI (Ikatan Konsultan Pajak Indonesia) wilayah Surabaya. Dulu, orang tua menginginkannya menjadi seorang guru atau PNS. Pastinya dengan berbagai pertimbangan yang matang. Seorang perempuan, menjadi guru selain bisa mendidik murid-muridnya, tentunya lebih pandai mendidik anak di rumah. Interaksi dengan anak di sekolah sedikit banyak akan melatih pribadi menjadi lebih sabar terhadap anak. Namun, tidak begitu dengan Zeti, selain ingin memenuhi keinginan orang tua, ia juga ingin membuka usaha sendiri. Pilihan jatuh menjadi konsultan pajak, selain masih menjanjikan, profesi ini masih jarang kita dengar.
Semangat pantang menyerah memulai langkah seorang Zeti Arina. Setelah terpilih menjadi ketua IKPI, ia mulai mengedukasi masyarakat tentang pajak. Tak hanya slogan semata orang bijak taat pajak, tetapi lebih ke pemahaman mereka, bahwa pajak adalah bagian dari kehidupan. Dan hasil dari pajak juga akan kembali kepada masyarakat. Dengan mengedukasi masalah pajak dengan benar, masyarakat akan lebih paham serta rela membayar pajak sesuai yang harus dibayarkan.
Sekarang, lebih dari 100 perusahaan besar dan perusahaan asing menjadi kliennya. Tak mudah meyakinkan kedua orang tua atas apa yang menjadi pilihan. Tapi seiring berjalannya waktu, Zeti Arina mampu meyakinkan mereka bahwa menjadi konsultan pajakpun bisa memperoleh penghasilah dan kehidupan yang sangat layak.
Sebuah cita-cita memang harus kita kejar, kita usahakan dan kita taklukkan. Saatnya menunjukkan kepada dunia kita bisa meraih apa yang kita impikan dengan kerja keras dan kerja cerdas. Semangat!